Pendidikan 2016). Fakta bahwa masih rendahnya pemahamanPendidikan 2016). Fakta bahwa masih rendahnya pemahaman

Pendidikan sains memiliki peran penting dalam
peningkatan mutu pendidikan khususnya didalam menghasilkan sumber daya manusia
dalam menghadapi persaingan di berbagai bidang kehidupan salah satunya adalah
kimia (Sastrika, dkk.,2013). Kajian ilmu kimia mencangkup produk (pengetahuan
kimia berupa fakta, teori, pinsip, hukum) hasil temuan dan proses (kerja
ilmiah) (Depdiknas, 2003:7). Maka sebagian besar ilmu kimia berkaitan dengan
eksperimen serta bekerja secara eksprimental yang diperoleh dari penelitian di
laboratorium (Chang, 2005:3).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Roland P. Stout mengatakan pembelajaran dilaboratorium dapat membuat siswa
menemukan konsep dengan cara melakukan percobaan dan membuat pembelajaran lebih
bermakna (Stout, 2013). Pembelajaran bermakna
sangat diperlukan dalam mengajarkan ilmu kimia disekolah
karena erat kaitannya dengan lingkungan atau kehidupan sehari-hari (Supardi
U.S., 2012). Pembelajaran ilmu kimia dipenuhi dengan fenomena alam yang
menarik, serta pengetahuan yang bermanfaat untuk memahami sifat dan proses
terjadinya alam semesta (Roehrig, 2004). Salah satu materi kimia yang erat
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari adalah sistem koloid (Achmad, 2001:213)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Berdasarkan
hasil penelitian sebelumnya mengenai pemahaman siswa terhadap konsep koloid
dengan metode ceramah dari 175 siswa hanya 67% siswa yang telah mencapai KKM
dan 33% siswa yang belum mencapai KKM. Hal ini menjelaskan bahwa konsep koloid
sangat memerlukan pemahaman konsep bukan hanya sekedar hapalan. (Addini dkk,
2016). Fakta bahwa masih
rendahnya pemahaman konsep dan kemampuan praktik siswa pada materi koloid di
beberapa sekolah diantaranya sekolah SMA Al Islam 1 Surakarta (Lukman, dkk.,
2015:114), SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo (Afriansi dan Nasrudin,2014:67), dan SMA
Negeri 1 Menganti(Rachmayanti dan Amaria, 2013:120). Penelitian lebih lanjut
dilakukan di SMA Kerinci terhadap pemahaman konsep siswa pada materi koloid
ditinjau dari gaya belajar siswa yang cenderung menghapal, diperoleh persentase
tingkat kepahaman siswa yaitu 52,83% siswa cenderung tidak paham dalam materi
pembuatan sistem koloid, 32,08% sifat koloid, dan 51,89% pada materi koloid
dalam kehidupan (Latisma, dkk., 2015:530). Ditambahkan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Oktaviani, dkk., (2013:6) pemahaman mengenai konsep pembuatan koloid
melalui percobaan lebih rendah dibandingkan dengan pemahaman mengenai konsep
peranan koloid dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh pembelajaran
yang cenderung teoritik. Pembelajaran dengan cara menghapal atau bersifat
teoritik membuat siswa kurang memahami apa yang mereka pelajari (makna), sulit
mengintegrasikan pengetahuan yang mereka miliki dengan permasalahan yang ada
dalam kehidupan sehari-hari, dan menurunnya motivasi belajar siswa, karena pembelajaran
menghapal cenderung membosankan (Lukman, dkk., 2015:114). Hal tersebut membuat
konsep koloid sulit dipahami.